Blockchain merupakan basis data global digital yang bisa diakses seluruh pengguna internet tanpa terkecuali. Teknologi ini lahir dan berkembang bersamaan dengan munculnya Bitcoin sebagai mata uang digital (cryptocurrency) pada 2009.

Dengan sistem data terbuka ini, Blockchain tak hanya memungkinkan transaksi uang berlangsung lebih aman, cepat, dan murah. Namun, bisa memfasilitasi transaksi berharga lainnya, seperti investasi properti, perhiasan, bahkan rekapitulasi suara pemilihan umum (pemilu).

Seperti dilansir dari forbes.com, teknologi Blockchain diperkirakan akan menjadi masa depan dari beberapa sektor di Indonesia, antara lain:

Pemerintahan

Ketua Dewan Direksi dari Blockchain Zoo, Pandu Sastrowardoyo, mengatakan ia ingin melihat Blockchain diterapkan dalam sistem pemerintahan Indonesia. “Ada potensi besar untuk peningkatan pelayanan, penghematan biaya, dan pencegahan korupsi bagi pemerintah,” ujarnya.

Logistik

Ketua asosiasi dan co-founder Blockchain Space Asia, Steven Suhadi, mengatakan bahwa industri logistik akan menikmati manfaat dari teknologi Blockchain, terutama dalam pemrosesan, pembiayaan, serta verifikasi asal dan keaslian barang.

Presiden dari Pundi X, Constantin Papadimitriou, juga mencatat adanya potensi dalam bidang ini. “Blockchain dapat memuat bukti transaksi yang terverifikasi dan membangun kepercayaan melalui pembukuan untuk memastikan adanya transparansi. Jadi, suatu barang dapat dilacak informasinya untuk membuat proses pengiriman menjadi otomatis,” jelasnya.

Transaksi Konsumen

Tak heran apabila Papadimitriou melihat adanya potensi dalam Blockchain karena Pundi X merupakan bisnis yang menggunakan sistem berbasis Blockchain untuk mengoptimalkan transaksi konsumen. “Apa yang dilakukan Pundi X adalah menyelesaikan tantangan transaksi berbasis Blockchain, yaitu membuat teknologi tersebut dapat digunakan oleh masyarakat luas,” katanya.

Ia percaya bahwa keberadaan mata uang digital saat ini belum mampu merambah masyarakat Indonesia secara luas dan tidak relevan dengan kehidupan mereka. “Sampai masyarakat dapat membeli air atau beras menggunakan mata uang digital, keberadaan transaksi berbasis Blockchain akan tetap terbatas,” tuturnya.

Pengamanan Data

Ketua Dewan Direksi dari Blockchain Zoo, Pandu Sastrowardoyo, yakin bahwa Blockchain dapat mengembalikan kepercayaan konsumen. Mereka dapat menentukan bagaimana data mereka digunakan dan dengan siapa data tersebut akan dibagikan.

“Kasus Cambridge Analytica kemarin menunjukkan bahwa saat ini kami tidak memiliki data sendiri karena sistem terpusat dimiliki oleh pemilik server,” katanya. Facebook pun sempat menghadapi tekanan akibat skandal kebocoran data 50 juta pengguna media sosial tersebut.

Ia melanjutkan, “Blockchain dapat memungkinkan Anda mengontrol data Anda, meskipun Blockchain berada dalam server organisasi tertentu, mereka tak dapat mengakses data Anda tanpa izin. Saya memprediksi, aplikasi identitas akan menjadi “aplikasi pembunuh” berikutnya bagi konsumen.”

Teknologi Blockchain memang masih awam bagi masyarakat Indonesia. Namun, menurut Ketua asosiasi dan co-founder Blockchain Space Asia, Steven Suhadi, hal itu membuat Blockchain dapat digunakan oleh siapapun. “Tak ada alasan untuk menganggap bahwa Blockchain bukanlah solusi bagi masalah-masalah di Indonesia,” katanya.

Sumber:

tirto.id
forbes.com
tempo.co