Manajemen yang buruk tidak melakukan diskriminasi berdasarkan gaji atau jabatan. Tim eksekutif Fortune 500 dapat mengalami lebih banyak ketidakpuasan dan pergantian yang lebih sering dari para barista di kedai kopi lokal. Semakin menantangnya pekerjaan Anda dan semakin sedikit kendali atas apa yang dapat Anda lakukan atasnya, semakin besar kemungkinan Anda akan menderita dengan pekerjaan tersebut. Sebuah studi oleh American Psychological Association menemukan bahwa orang yang pekerjaannya memenuhi kedua kriteria ini lebih mungkin mengalami kelelahan, kurang tidur, kecemasan, dan depresi.

Berikut adalah enam hal yang selalu ditakuti oleh seorang atasan atau manajer yang buruk, namun justru dilakukan oleh atasan yang hebat.

Mempercayai Para Karyawannya

Dalam suatu percakapan dengan majalah Rolling Stone di salah satu titik terendah dalam karirnya, Steve Jobs pernah berkata: “Yang penting adalah Anda memiliki keyakinan pada orang-orang yang Anda pimpin, bahwa pada dasarnya mereka baik dan cerdas, dan jika Anda memberi mereka alat dan fasilitas, mereka akan melakukan hal-hal luar biasa bersama Anda.” Ketika Jobs berevolusi sebagai pemimpin, ia menunjukkan keyakinan yang semakin meningkat pada karyawannya. Sebagai seorang manajer atau atasan yang hebat, Anda dapat mengadopsi pola pikir “kepercayaan” ini sebelum kepercayaan diperoleh karena Anda menerima dan percaya pada kemampuan karyawan terlebih dahulu untuk menggunakan otak dan bakat mereka untuk berkreasi dan berinovasi bagi kemajuan perusahaan.

Menciptakan Rasa Aman Dalam Lingkungan Kerja

Menciptakan ruang di mana orang dapat terbuka dengan emosi mereka berarti seorang karyawan dapat masuk ke ruang kantor atasan mereka untuk mengakui kesalahan tanpa takut kehilangan pekerjaan mereka. Itu berarti seseorang dapat mengangkat tangan mereka dan meminta bantuan, mengakui bahwa mereka telah diberi tanggung jawab meski mereka tidak merasa siap atau cukup terampil untuk menyelesaikannya, atau mengakui bahwa mereka tidak khawatir akan penghinaan atau pembalasan. Sebaliknya, di lingkungan kerja yang tidak memiliki pemimpin yang baik, orang akan keluar dari jalan mereka demi untuk mengikuti aturan, menutupi kesalahan, dan menolak pertanggungjawaban.

Mendukung Terciptanya Umpan Balik Yang Membangun

Dibutuhkan kerendahan hati, pikiran yang terbuka, dan banyak mendengarkan secara aktif untuk seorang manajer dan atasan dapat menerima umpan balik dari karyawan yang dipimpinnya. Para pemimpin yang baik akan bertanya kepada para karyawannya untuk mendapat masukan yang membangun bagi perusahaan dan menghormati para karyawan mereka yang teladan. “Bagaimana saya bertindak sebagai seorang pemimpin?” Dan kemudian pemimpin tersebut mendengarkan. Pemimpin yang buruk takut akan hal yang satu ini. Mereka tak pernah bisa menerima kritikan atau umpan balik apa pun.

Pemimpin Buruk Selalu Fokus Pada Dirinya Sendiri, Takut Berkontribusi Untuk Tim

Para pemimpin atau atasan yang takut memimpin akan selalu cepat menganggap bahwa segala hal yang diberikan karyawannya adalah hasil kerjanya seorang dan bukan merupakan kerjasama tim. Mereka akan dengan cepat mengasingkan orang, dan kehilangan rasa hormat atas upaya yang dihasilkan timnya. Akan tetapi, pemimpin yang hebat tidak mencari popularitas atau mengambil kredit atas pekerjaan orang lain. Mereka memberdayakan orang-orang yang mereka pimpin untuk melakukan semua pekerjaan, mencari solusi yang menambah nilai perusahaan dan memberi manfaat kepada seluruh anggota tim, serta tidak mengambil kredit atas pekerjaan yang tak pernah dilakukannya.

Pemimpin Hebat Memiliki Mindset Melayani, Bukan Dilayani

Seorang pemimpin yang selalu melakukan penekanan utama pada kepentingan diri sendiri secara alami memandang orang lain sebagai sarana untuk mencapai tujuan pribadinya tersebut. Anda tidak bisa menjadi pemimpin sejati jika Anda masih memiliki mindset yang demikian. Tanpa pamrih bukan berarti sama sekali tanpa ego… ini adalah tentang memanfaatkan ego dengan cara yang sehat. Seperti yang dikatakan Dalai Lama, ‘Kita harus memastikan bahwa kita memiliki ego yang bersifat melayani dan bukan ego yang merasa layak dilayani.”

Sumber artikel:

forbes.com

inc-asean.com

Sumber gambar:

adeccorientaempleo.com