Jam kerja seringkali dikaitkan dengan tingkat produktivitas. Banyak yang berpendapat bahwa dengan semakin tingginya jam kerja seseorang, akan semakin banyak output yang dihasilkan untuk tempat mereka bekerja. Akan tetapi, tidak halnya dengan negara Swedia. Dikutip dari BusinessInsider, Swedia memang dikenal sebagai negara yang amat peduli dengan tingkat kebahagiaan para penduduknya, termasuk jam kerja. Swedia ingin selalu membuat penduduknya bahagia dan itulah yang membuat negara ini bereksperimen dengan menerapkan 6 jam kerja dalam sehari bagi semua pekerja kantoran.

BBC juga mewawancarai salah satu asisten perawat bernama Emilie Telander, 26, yang berbahagia karena menjadi salah satu perawat di rumah perawatan lansia Svartedalen di Gothenburg yang mendapat privilege bekerja hanya 6 jam sehari dengan gaji yang tetap penuh.

Demikian pula hasil penelitian kepada 70 orang perawat di Swedia, seperti yang dilansir oleh Independent.co.uk. Hasil penelitian dan penerapan 6 jam kerja sehari kepada 70 orang tersebut menyatakan bahwa perawat yang bekerja dengan jam kerja yang lebih pendek (6 jam) menjadi lebih jarang mengambil cuti sakit, merasa lebih sehat dan lebih produktif.

Mereka juga mengatakan bahwa rata-rata dari mereka merasa 20 persen lebih bahagia dan memiliki lebih banyak energi di tempat kerja dan di waktu luang mereka. Hal ini memungkinkan mereka mengatur 85 persen lebih banyak aktivitas fisik dengan penduduk lanjut usia.

Meskipun ide untuk bekerja selama 6 jam sehari mungkin tidak akan berjalan baik dalam pekerjaan tatap muka seperti keperawatan, di mana jam kerja yang dikurangi (2 jam) masih harus dijalankan juga pada akhirnya berdasar permintaan pasien, di lingkungan kerja yang lebih fleksibel seperti tech startups di Swedia, beberapa perusahaan telah melaporkan adanya lebih banyak kesuksesan dengan diterapkannya eksperimen kerja 6 jam sehari ini.

Hanya saja, sistem kerja ini memiliki satu kekurangan. Hal ini akan berdampak pada meningkatnya cost untuk merekrut lebih banyak jumlah pekerja. Seperti di nyatakan dalam data yang berhasil didapatkan oleh Business Insider. Data tersebut menjabarkan bahwa untuk memberi kira-kira 80 pekerja di panti jompo Svartedalen lebih banyak waktu istirahat, pemerintah kota harus mempekerjakan 17 orang tambahan untuk menyesuaikan hasil kerja dengan perubahan yang terjadi. Para rekrutan baru tersebut membuat  pemerintah setempat harus mengeluarkan sejumlah $738.000  sebagai gaji bagi mereka yang artinya sudah meningkat sekitar 22%.

Lebih lanjut, Bengt Lorentzon, peneliti utama untuk proyek rumah jompo Svartedalen, mengemukakan bahwa konsep kerja enam jam sehari juga dilengkapi dengan budaya kerja fleksibel yang kuat yang dipromosikan oleh banyak bisnis di Swedia.

Beliau mengatakan bahwa banyak kantor sudah bekerja hampir seperti konsultan. Tidak perlu manajer untuk mengumpulkan semua pekerja mereka di kantor pada saat bersamaan, mereka hanya ingin mendapatkan hasilnya dan para pekerja hanya harus memberikan hasil yang diminta.

Alasan beliau berkata demikian sebenarnya cukup logis. Dia membandingkan pekerja kantoran dengan asisten perawat yang mana tidak bisa dengan bebas meninggalkan pekerjaan mereka walau jam kerja dikurangi.

Sebaliknya, ia justru menghimbau kepada khalayak ramai untuk lebih memikirkan bagaimana cara membuat lingkungan kerja yang lebih baik dari berbagai aspek lain, bukan hanya dari jumlah jam kerja yang dikurangi saja. (sumber: BBC.com)

 

Sumber artikel:

http://www.independent.co.uk/news/business/news/sweden-six-hour-working-day-what-happened-trial-a7574126.html
http://www.businessinsider.sg/swedens-short-workdays-boosted-happiness-too-expensive-2017-1/?r=US&IR=T

http://www.bbc.com/news/business-38843341

Sumber gambar:

https://newsatjama.files.wordpress.com/2014/07/7-24-14-shift-work-istock_000010390109small.jpg