Suksesnya Grab mengakuisisi Uber di Asia Tenggara dapat berarti bahwa perusahaan tersebut sekarang akan berhadapan langsung dengan rivalnya Go-Jek — dan bukan hanya dalam bisnis yang mengandalkan transportasi, tetapi juga pembayaran digital dan jasa pengiriman makanan.

Tentu saja, Go-Jek masih berkuasa di negara asalnya di Indonesia (pasarnya merupakan yang terbesar di wilayah ini), tetapi Grab terus menjadi kompetitor ketatnya di sana sambil mempertahankan kekuasaannya atas seluruh daerah Asia Tenggara.

Apa dampak lain dari bergabungnya Uber dengan Grab bagi Go-Jek di masa yang akan datang? Berikut pendapat dua orang ahli dibidangnya untuk Anda simak!

Pendapat Jianggan Li, Founder dari Momentum Works

Kesepakatan ini berarti Go-Jek akan menghadapi tekanan yang lebih kompetitif, karena Grab sekarang dapat memusatkan sumber daya mereka di pasar untuk mengalahkan Go-Jek. GoJek secara tradisional jauh lebih baik daripada Grab dalam kecepatan dan eksekusi layanan mereka. Namun, menghadapi lifeline Softbank yang hampir tidak terbatas, para investor Go-Jek akan terus berada di bawah tekanan. Bagaimana tim Go-Jek dapat menahan tekanan ini, mendatangkan lebih banyak uang, dan tetap mengembangkan bisnis mereka? Hal itu akan sangat menarik untuk diikuti perkembangannya.

Selama setahun terakhir, banyak orang di Manila, Bangkok, dan Ho Chi Minh City telah didekati oleh perekrut Go-Jek. Melakukan tindakan ofensif adalah suatu keharusan, dan dengan Grab menjadi satu-satunya pemain utama di banyak pasar, mungkin menjadi lebih mudah bagi regulator untuk menciptakan lingkungan yang mendukung masuknya Go-Jek. Akan tetapi Go-Jek seharusnya tidak kehilangan fokus di pasar intinya. Interaksi antara Didi dan Meituan dapat menawarkan pelajaran menarik bagi kedua belah pihak.

Berikut beberapa perkembangan yang mungkin terjadi:

1. Go-Jek tunduk pada tekanan investor dan bergabung dengan Grab. Tim Pendiri (dan pemegang saham) keluar dari sana dengan pembayaran tunai besar.
2. Grab menghadapi peraturan dan halangan lainnya serta harus meninggalkan pasar Indonesia. Go-Jek tumbuh dengan baik di Indonesia.
3. Go-Jek bermitra dengan bank-bank besar untuk menjadi super agresif dalam pembiayaan konsumen, dan menjadi perusahaan yang menguntungkan. Dan itu berarti GoJek tidak lagi harus tunduk pada tekanan para investor.
4. Tencent, Meituan, dan lain-lain memutuskan bahwa Go-Jek adalah bisnis yang strategis, dan akan terus mendukungnya untuk mencegah konsolidasi.

Pada akhirnya, ini adalah permainan beberapa pihak dengan banyak sekali minat dan banyak hasil yang mungkin terjadi. Hal ini berbeda dengan Uber. Ketika Travis Kalanick dipaksa keluar pada pertengahan tahun 2017 lalu, cukup jelas bahwa perusahaan pada akhirnya akan meninggalkan Asia Tenggara sebagai pasar mereka.

Pendapat Khailee Ng, Managing Partner dari 500 Startups

Beliau berpendapat bahwa meskipun beliau adalah investor awal di Grab, namun beliau tidak mewakili suara mereka, jadi ini adalah komentar murni yang berasal dari pribadinya sebagai pengamat bisnis.

Beliau yakin ruang kompetitif itu dinamis, dan bahkan tanpa aset Uber, Grab telah menjadi kekuatan eksekusi dan inovasi terbesar yang pernah dilihat di wilayah ini (banyaknya jumlah layanan di bidang keuangan adalah contoh). Dengan cara yang sama Cina memiliki perusahaan raksasa seperti Alibaba dan Tencent, Grab sudah menjadi raksasa regional di berbagai vertikal dan pasar.

Bukan hanya Go-Jek, tetapi siapa pun di vertikal atau pasar ini perlu mempertimbangkan: akankah mereka memiliki cukup uang, eksekusi, inovasi, dan skala ekonomi untuk bersaing? Pengiriman makanan di Indonesia adalah salah satu medan perang yang cukup sengit, tetapi kita harus mempertimbangkan konteks yang lebih besar seperti misalnya pengiriman, jasa transportasi, dan pembayaran. Mereka dapat mencoba untuk melawan langsung pada beberapa bidang, tetapi bagaimana dengan bidang lain? Dapatkah mereka tetap menang di segala bidang layanan yang ditawarkan?

Grab sangat besar, dan juga cepat. Melawan gorila 1 juta ton yang lambat tidak sama dengan melawan raksasa yang juga lincah dan cepat. Ketika kita melihat tingkat pendanaan, inovasi, dan eksekusi Facebook, Google, dan Amazon, kita juga memiliki bukti nyata bahwa perusahaan besar dapat menjadi sangat cepat juga.

Akhirnya, setiap pasar di dunia akan memiliki startup “pasca-unicorn” seperti Facebook dan Amazon yang besar, dominan, dan cepat. Inilah tepatnya yang akan diincar Grab di masa mendatang.

Sumber artikel:

techinasia.com

nikkei.com

Sumber gambar:

newshub.id