Spotify, mulai hari ini, secara resmi menjadi perusahaan publik. Jika pendekatan “direct listing” biasa berhasil – seperti yang diprediksi oleh beberapa analis – itu dapat menjadi awal dari gelombang baru startup teknologi yang mampu menjauhkan investor Wall Street, dan IPO yang lebih tradisional. Saham melonjak dalam perdagangan awal, dibuka pada $165,90 masing-masing memiliki nilai $29,5 miliar, hingga waktu publikasi.

Pengusaha teknologi memperhatikan dengan seksama. “Jika direct listing berhasil, dan Spotify mampu meningkatkan jumlah modal yang mereka pikir dapat mereka capai, wirausahawan lain akan mempertimbangkan hal ini,” kata Jay Sukits, seorang profesor keuangan di Joseph M. Katz Business Graduate School di University of Pittsburgh. “Para pendiri perusahaan berbasis teknologi akan melihat bahwa mereka dapat menjalankan usaha dengan semua modal, dan tidak perlu membayar bank investasi untuk membuat bisnis mereka menjadi lebih dikenal publik. Itu masalah besar,” tambahnya.

Tidak seperti kebanyakan perusahaan yang go public, Spotify tidak akan menjual saham baru atau yang sudah ada melalui penawaran yang ditanggung oleh bank Wall Street. Sebaliknya, kesepakatan itu hanya memberi para pemegang saham saat ini kemampuan untuk menjual saham mereka di NYSE secara langsung. Saham akan diperdagangkan di bawah simbol “SPOT.”

Itu juga berarti bahwa, tidak seperti penawaran umum perdana lainnya, tidak ada batasan atau perjanjian yang sifatnya mengikat yang mencegah pemegang saham saat ini untuk melakukan penjualan sesegera mungkin. Dalam IPO standar, orang dalam tidak diizinkan untuk menjual sahamnya segera untuk mencegah gelombang penjualan yang dapat menekan harga saham.

CEO Spotify, Daniel Ek, yang meluncurkan perusahaan ini pada 2006 lalu di tempat asalnya, Stockholm, Swedia, menegaskan bahwa debut publik bukanlah sebuah acara pendanaan – dan bahwa bisnis tersebut tidak memerlukan uang lebih untuk dapat terus tumbuh. “Spotify tidak meningkatkan modal, dan pemegang saham serta karyawan kami bebas membeli dan menjual saham kami selama bertahun-tahun,” kata Ek dalam posting blog miliknya pada hari Senin. “Meskipun hari besok menempatkan kita pada tahapan yang lebih besar, itu tidak mengubah siapa kita, tentang apa perusahaan kita sebenarnya, atau bagaimana kita beroperasi.”

Ada kelemahan metode ini untuk go public yaitu bahwa para pendiri harus bijak dalam mempertimbangkan metode tersebut sebelum mengikutinya. Misalnya, meskipun Spotify berpotensi menghemat biaya jutaan dolar terkait dengan penjaminan, itu bukan berarti tidak ada pihak ketiga yang akan masuk dan menstabilkan harga saham jika terjadi kesalahan. Dalam pengajuan F-1, Spotify lebih jauh mencatat bahwa “daftar kami [tidak memiliki] perlindungan yang sama seperti penawaran umum perdana yang ditanggung,” yang menurut perusahaan dapat menyebabkan ketidakstabilan.

Dalam jangka panjang, kata Katz School’s Sukits, para pendiri perusahaan teknologi harus selalu mengamati dengan seksama perkembangan penerbitan IPO ini. “Kelemahan dari hal ini adalah bahwa mungkin IPO satu ini merupakan IPO yang gagal,” katanya kepada Inc. “Mungkin mereka tidak mendapatkan distribusi yang mereka butuhkan untuk meningkatkan jumlah dana yang ingin dikumpulkan,” tambahnya. “Sulit untuk memprediksi apa yang akan terjadi seccara pasti karena hal seperti ini memang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Sumber artikel:

inc-asean.com

fortune.com

Sumber gambar:

scdn.co