Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia sekaligus kota metropolitan di Pulau Jawa, berdasarkan laporan yang dilansir BBC.com, mencatatkan populasi sekitar 30 juta penduduk. Kota ini pun menjadi rumah bagi setidaknya 18 juta kendaraan bermotor. Kondisi ini telah membuat kecepatan rata-rata kendaraan terbatas pada kisaran 8 kilometer per jam.

Untuk mengatasi persoalan ini, Go-Jek hadir dengan aplikasi jasa transportasi daring (online). Begitu pula Grab. Pernahkah Anda membayangkan, apa jadinya kehidupan perkotaan jika aplikasi tersebut tiba-tiba menghilang? Berikut ini dampak yang bisa terjadi bila Indonesia tidak lagi memiliki perusahaan penyedia jasa transportasi online.

Pengangguran meningkat

Go-Jek dan Grab telah memberikan pekerjaan bagi banyak orang. Dengan kata lain, angka pengangguran bisa ditekan. Berdasarkan laporan Financial Times, ada 200.000 driver yang terdaftar sejak Go-Jek diluncurkan pada Januari 2015, yang tersebar di lima kota, termasuk Jakarta dan Bali. Padahal, perusahaan menetapkan kuota sebatas 36.000 orang.

Bahkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan, pada 2016, tingkat pengangguran terbuka berkurang sebanyak 530.000 orang. Kepala BPS Kecuk Suhariyanto menjelaskan, ekonomi berbasis teknologi informasi berhasil menciptakan lapangan pekerjaan, yang akhirnya mengurangi jumlah pengangguran. Bayangkan saja jika Go-Jek atau Grab lenyap dan ribuan orang kehilangan pekerjaan.


Sumber: YouTube

“Opang” semakin mahal

Tak bisa dipungkiri, Go-Jek dan Grab telah menjadi fenomena di masyarakat perkotaan Indonesia. Orang-orang, terutama warga Jakarta pun dapat dikatakan bergantung pada jasa transportasi antimacet ini.

Berdasarkan data dari inc-asean.com, aplikasi Go-Jek telah diunduh lebih dari 40 juta kali dan dipakai 80 persen pengguna iOS serta 60 persen pengguna Android di Indonesia. Go-Jek dan Go-Pay pun memproses lebih dari 50 juta transaksi per bulan. Bisnis aplikasi layanan transportasi ini mendapatkan “kue” yang cukup besar, atau sebanyak 60 persen pangsa pasar di Indonesia.

Hukum permintaan dan penawaran pun berlaku. Masyarakat kemungkinan akan beralih maupun kembali pada jasa ojek konvensional atau ojek pangkalan (opang), jika Go-Jek dan Grab tak lagi ada. Akibatnya, tarif opang berpotensi meroket, karena banyaknya permintaan terhadap jasa mereka.

Bisnis kuliner menjadi lesu

Apabila Go-Jek dan Grab menghilang dari Indonesia, industri kuliner pun akan turut terkena imbasnya. Bisnis kuliner bisa mengalami penurunan omset karena hilangnya Go-Food dan GrabFood dari peredaran, yang selama ini membantu memuluskan pemasaran dan penjualan.

Go-Food menguasai 95 persen pangsa pasar di jasa pengiriman makanan online. Pengguna aplikasi ini bisa dengan mudah memesan makanan dari restoran favorit mereka. Dengan besarnya peranan Go-Food saat ini, maka para pelaku bisnis kuliner harus memutar otak untuk mencari jalan lain jika tiba-tiba Go-Jek dan Grab berhenti beroperasi.

Biaya hidup semakin mahal

Harus diakui, kehadiran Go-Jek dan Grab telah memudahkan hidup kita. Selain menekan pengeluaran uang, kita juga bisa menghemat waktu. Bahkan, dua perusahaan tersebut membantu pengentasan kemiskinan di Indonesia melalui penyediaan lapangan kerja.

Berikut ini ilustrasi dari pengeluaran yang bisa dihemat setiap orang dengan memakai layanan transportasi online tersebut. Jika tidak memakai layanan transportasi online, seorang penumpang bisa dikenai ongkos perjalanan Rp 50.000 (US$ 4) untuk perjalanan sejauh delapan kilometer. Dengan Go-Jek, tarifnya hanya Rp 8.000 (US$ 0,60). Tanpa dua perusahaan itu, masyarakat harus bersiap-siap mengalokasikan uang lebih banyak untuk kehidupan sehari-hari.

Semoga saja, layanan transportasi online tidak hilang ya.

Sumber:
bbc.com
scmp.com
ft.com
inc-asean.com
medium.com
coconuts.co
kr-asia.com
bisnis.com