Di Silicon Valley, seperti di banyak daerah bagian di dunia, telah lama ada prioritas akan janji teknologi yang penuh dengan risiko. Namun demikian, tidak ada pendiri yang dengan sengaja membangun sebuah perusahaan yang bercita-cita “melakukan kejahatan” atau berusaha untuk “menghancurkan informasi dunia.” Pendiri perusahaan teknologi adalah, pada umumnya, seorang yang bijaksana, individu yang bertanggung jawab serta benar-benar percaya bahwa mereka sedang dan dapat membuat dunia sekitar mereka menjadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali.

Jadi, mengapa kemudian kita terlibat masuk ke dalam dunia di mana robot mengancam untuk menggantikan pekerjaan kita, algoritma menentukan berita serta mengkaji komunikasi dengan teman-teman kita, mobil yang mengemudi sendiri malah menyebabkan kecelakaan dan kematian, dan penyalahgunaan data malah merusak demokrasi? Apa sebenarnya yang salah atau kurang daripada industri teknologi?

Kita sudah terlalu lama dan bahkan terlalu percaya pada monoteisme teknologi dengan belajar menulis kode. Jika saja kita bisa mendapatkan cukup banyak orang untuk dapat mempelajari sains, teknologi, teknik, dan matematika, kita akan maju menjadi dunia yang lebih baik dengan tingkat pengangguran rendah dan produktivitas tinggi — atau begitulah secara teorinya. Tetapi apa yang kita lupakan di zaman dimana hashtag sepertinya tidak memiliki akhir dan coding bootcamps diadakan tanpa penghargaan terhadap kemanusiaan kita sendiri, pengoptimalan ini sangat bersifat mekanistik dan lupa akan sentuhan manusia yang sudah semakin lama nampak kian diabaikan.

Kita membutuhkan lebih banyak keragaman dalam STEM dan lebih banyak orang yang bisa menjadi bagian dari ekonomi inovatif. Dengan ini juga berarti kita mengembangkan keragaman akan siapa saja orang yang harus kita pekerjakan dan serta mengembalikan sentuhan manusia dan seni liberal.

Jika sains adalah studi tentang alam dan bagaimana alam bekerja, humaniora adalah studi tentang tempat kita di dalamnya. Antropologi adalah studi tentang kemanusiaan, dan sejarah adalah catatan tertulis kita. Politik dan sosiologi mengajarkan tentang sifat kolaboratif dan interdependen kita. Psikologi dan filsafat adalah introspeksi ke dalam ketakutan, gairah, dan semangat dalam diri kita.

Lihatlah Facebook hari ini dan sudah jelas bahwa tantangan yang paling berat yang harus kita hadapi adalah etika, editorial, dan filosofi. Ketiganya adalah masalah budaya dan komunikasi, politik serta hukum. Meskipun mereka pasti menghadapi tantangan teknis setiap hari, perubahan algoritmik ini dalam cara mereka menyimpan, menyortir, dan mengambil data dianggap kurang menarik daripada konsekuensi sosiologis dan politik yang mereka hadapi ketika mereka menjadi dikenal publik.

Bagaimanapun, semua teknologi adalah manusia; itu dibuat dari, oleh, dan untuk manusia bukan sebaliknya.

Di Google, filosofi “20-persen waktu” memungkinkan para karyawan berkinerja tinggi untuk menghabiskan sebagian besar waktu mereka guna mengerjakan proyek sampingan yang dapat berkembang menjadi produk atau minat baru.

Teknologi bukanlah sesuatu yang sifatnya monolitik atau hanya terdiri dari para insinyur dan pengembang kode. Semakin cepat kita mengakui kesetaraan dalam kontribusi antara humaniora dan sains tentang bagaimana kita mengatasi tantangan terbesar kita, semakin cepat kita akan dapat secara efektif menempatkan alat-alat baru untuk mengerjakannya.

Sumber artikel:

medium.com

techinasia.com

Sumber gambar:

marketingindustrynews.com