Mark Zuckerberg, yang pada waktu itu masih berusia 23 tahun, mendirikan Facebook saat masih menjadi mahasiswa psikologi di Harvard University. Mark Zuckerberg adalah seorang programmer komputer yang hebat dan telah berhasil mengembangkan sejumlah situs jejaring sosial untuk sesama siswa, termasuk Coursematch, yang memungkinkan pengguna melihat orang-orang mengambil gelar mereka, dan Facemash, di mana Anda bisa menilai daya tarik orang lain.

Pada Februari 2004, Zuckerberg meluncurkan “The facebook”. Hanya dalam waktu 24 jam, 1.200 mahasiswa Harvard telah mendaftar, dan setelah satu bulan, lebih dari setengah mahasiswa sarjana memiliki profil dalam platform baru ciptaan Mark Zuckerberg itu.

Jaringan itu segera diperluas ke universitas di daerah Boston lainnya, Liga Ivy, dan akhirnya semua universitas di Amerika Serikat. Kemudian, platform tersebut berubah menjadi Facebook.com pada bulan Agustus 2005 setelah alamat web tersebut dibeli seharga $200.000. Setelah itu, mulai Septermber 2005, Facebook mulai dikenal dan tersebar ke seluruh dunia.

Sayangnya, belakangan ini Facebook dan Mark Zuckerberg harus menghadapi suatu musibah dengan adanya kasus skandal data. Berikut kami uraikan bagaimana nasib mereka kini.

Masalah ini berada di luar kontrol Mark Zuckerberg

Terkait masalah skandal data yang menimpa Facebook, Mark Zuckerberg diharuskan menghadapi berbagai pertanyaan dari para dewan persidangan tentang peran yang dimainkan Facebook dalam menyebarkan informasi palsu, terutama dalam pemilihan presiden terakhir. Dalam upaya untuk menggagalkan troll Internet Rusia, yang mempercayai iklan tentang masalah yang memecah belah secara sosial untuk menabur kekacauan di Amerika Serikat, Facebook mengumumkan baru-baru ini bahwa kondisi tersebut mengharuskan mereka yang mengiklankan isu politik untuk memverifikasi identitas dan lokasi mereka – karena pada dasarnya iklan politik dilarang di platform mereka.

Tuntutan kasus skandal data lain juga dilayangkan oleh Cambridge Analytica perihal penggunaan data pribadi para penggunanya oleh Facebook secara ilegal.

Cambridge Analytica mengumpulkan data dari 50 juta pengguna (angka yang sekarang diakui oleh Facebook mungkin mencapai 87 juta), kemudian mengembangkan program perangkat lunak yang memetakan warga ini untuk memprediksi pola pemberian suara, dan melalui iklan bertarget mikro, memengaruhi keputusan voting warga Amerika Serikat.

Perkembangan kasus sejauh ini yaitu pada tanggal 4 April yang lalu, Facebook telah mengakui bahwa hingga 87 juta penggunanya bisa terpengaruh. Mayoritas yang terpengaruh (sekitar 70,5 juta orang) berada di Amerika Serikat, tetapi 19% sisanya bisa ditemukan di beberapa negara lain, termasuk Inggris, Kanada, Australia dan India.

Bukan hanya perihal skandal data

Facebook mengalami kesulitan dalam menjaga para penaruh iklan dari menargetkan iklan ke ras tertentu, berpotensi melanggar undang-undang diskriminasi di beberapa tempat. Kasus ini juga membuat Facebook menuai kecaman dan tuntutan hukum bagi Mark Zuckerberg.

Menaggapi kasus ini, sekelompok peneliti dari Institut Max Planck dan Universitas Northeastern mengatakan bahwa ketika mereka ingin mencari tahu bagaimana berita palsu menyebar atau mengadakan diskusi yang mengganggu, mereka akan beralih ke Twitter. Peneliti open-source seperti Jonathan Albright dapat melacak bagaimana jaringan troll merebut outlet dan cerita tertentu di Twitter. Namun di Facebook, analisis semacam itu belum memungkinkan untuk dilakukan. Menurut mereka, itulah mengapa Facebook bisa mendapatkan masalah ketika banyak orang yang para pengiklan tak bertanggung jawab memposting iklan mereka di sana.

Berita baiknya adalah, setelah pengawasan iklan, Facebook sudah berhasil menguji lebih banyak halaman pengungkapan iklan yang akan menampilkan setiap posting dari pengiklan tertentu, yang dijadwalkan akan diluncurkan di Amerika Serikat sebelum pemilihan umum 2018 digelar. Ada jauh lebih banyak data daripada yang dapat Anda peroleh dari sistem seperti AdWords, meskipun itu masih tidak akan memberikan banyak detil mengenai bagaimana iklan ditargetkan.

Hanya satu pilihan yang tersisa bagi Facebook

Kini perusahaan pimpinan Mark Zuckerberg tersebut hanya punya satu pilihan yang dipromosikan oleh beberapa investor awal seperti Roger McNamee: tinggalkan sistem iklan sama sekali dan kenalkan biaya bulanan atau biaya berlangganan untuk layanannya. Dengan demikian, Facebook diharapkan menjadi tempat yang kurang bermanfaat untuk menyebarkan berita palsu, serta menghilangkan dorongan untuk mengumpulkan dan menyimpan begitu banyak data pengguna.

Kesimpulannya

Alih-alih membiarkan Facebook lolos dengan membuat layanannya menjadi berbayar atau terus mengeksploitasi data penggunanya untuk tujuan iklan, kita harus menemukan cara untuk membuat perusahaan seperti Facebook justru harus membayar ketika ingin mengakses data penggunanya yang secara konsep merupakan milik kolektif atau bersama dan bukan milik peorangan semata.

Sumber:
theguardian.com
washingtonpost.com
techradar.com
theverge.com
theguardian.com
reutersmedia.net