Go-Jek adalah perusahaan yang didirikan tahun 2015 dengan menawarkan layanan transportasi berupa taksi sepeda motor. Transportasi jenis ini adalah sarana transportasi yang populer untuk menjelajahi jalan-jalan di Jakarta yang macet. Akan tetapi, seiring waktu berjalan, Go-Jek telah berkembang menjadi layanan yang menyediakan jasa transportasi roda empat, layanan dan pembayaran sesuai permintaan. Nah, pada tahun 2018 ini, Go-Jek harus mendapati kenyataan bahwa sekarang perusahaan mereka harus menghadapi pesaing utama mereka yaitu Grab yang telah mengakuisisi Uber dan bersiap menguasai pasar di Indonesia. Bagaimanakah strategi dan tindakan Go-Jek untuk menyaingi Grab dan tetap berada merajai pasar Indonesia? Berikut ulasannya untuk Anda!

Go-Jek membeli tiga Financial Technology startup

Satu langkah yang amat jelas telah diambil oleh Go-Jek untuk tetap berada di atas Grab, saingan bisnisnya. Mereka telah melakukan pembelian terhadap tiga bisnis startup untuk semakin mengukuhkan sistem bisnis pembayarannya.

Menurut laporan dari TechCrunch, Go-Jek mengklaim memiliki 900.000 pengemudi dan 15 juta pengguna aktif mingguan. Di luar jasa transportasi online, bisnis GoJek juga mencakup 125.000 pedagang dengan lebih dari 100 juta transaksi yang diproses melalui platformnya tiap bulan. Go-Jek menuturkan bahwa bersama-sama, ketiga startup dan Go-Pay memproses pembayaran senilai $5 miliar antara kartu dan dompet digital.

CEO Go-Jek Nadiem Makarim baru-baru ini mengatakan kepada Bloomberg bahwa perusahaannya berencana untuk memperluas Go-Pay untuk menguasai lebih banyak ritel baik online maupun offline. Perusahaan ini memanfaatkan peluang untuk menawarkan layanan pembayaran dasar untuk melayani mayoritas penduduk di Indonesia yang tidak memiliki akses ke perbankan tradisional. Penetrasi kartu kredit dikabarkan masih ada di angka di bawah lima persen di negara ini, negara keempat terbesar di dunia.

Harapannya, dengan demikian, Go-Jek akan dapat mengalahkan saingan terbesar mereka saat ini yaitu Grab.

Promo dan inovasi menarik di media sosial

Media sosial adalah aspek berikutnya yang akan terus diperkuat oleh Go-Jek. Mereka akan terus membuat promo yang menarik serta menunjukkan berbagai inovasi yang diharapkan mampu menggaet lebih banyak pelanggan baru dan mengalahkan Grab secara telak.

Faktanya, sebagai pelopor aplikasi ojek di Indonesia, banyak taktik pemasaran digital digunakan oleh Go-Jek untuk meningkatkan jumlah mentions sosial mereka, terutama di Twitter dan Instagram, termasuk promo unik dan tampilan para driver mereka yang menawan. Salah satu promo mereka untuk meningkatkan jumlah mention di Instagram adalah dengan mengadakan kontes selfie dengan para driver Go-Jek serta mempostingnya di Instagram dengan menggunakan #GojekDimanamana untuk memenangkan kredit sebesar Rp100.000.

Tidak hanya menyediakan driver pria saja, strategi pemasaran Go-Jek lainnya juga melibatkan wanita cantik. Driver yang tampan ini telah berhasil menyita perhatian banyak netizen. Banyak “meme” yang dibuat dari foto-foto driver ini telah menjadi viral di Social Media, terutama di Instagram dengan #MemeGojekKece & membantu dalam menciptakan faktor diferensiasi untuk merek Go-Jek itu sendiri.

Go-Jek semakin bebas berkarya

Grab dan Uber memang telah bergabung menjadi satu, namun Go-Jek bisa melihat ini sebagai sesuatu yang menguntungkan karena jumlah persaingan yang berkurang.

Menurut Michael Say, CEO Corporate Communications dari Go-Jek, Go-Jek yang sejauh ini telah berdiri di 50 kota di Indonesia kemungkinan besar akan bertambah terus jumlahnya karena tak sedikit mitra Uber yang bergabung dengan mereka. Belum lagi, ada sekitar 125 ribu pengusaha kuliner yang telah terdaftar dalam Go-Food dan sekitar 30 ribu pengusaha tergabung dalam layanan Go-Jek lainnya.

Go-Jek masih yakin bahwa posisnya tak tergoyahkan kendati Grab mengakuisisi Uber .

Sumber:
wsj.com
tothenew.com
techcrunch.com
seasia.com
tribunnews.com
thedrum.com