“Isi otak seseorang jauh lebih menarik daripada penampilannya buat saya,” ucap aktris dan penemu asal Hollywood Hedy Lamarr pada tahun 1990, 10 tahun sebelum beliau meninggal.

Lamarr adalah seorang bintang film yang mungkin paling terkenal karena perannya dalam film yang dinominasikan oleh Oscar pada tahun 1940, ‘Algiers’ dan ‘Samson and Delilah’. Tetapi, pikiran teknisnya justru merupakan warisan terbesarnya, menurut sebuah film dokumenter baru tentang kehidupannya, yang berjudul ‘Bombshell: The Hedy Lamarr Story.’ Film ini mengisahkan paten yang LaMarr ajukan untuk teknologi lompat frekuensi pada tahun 1941 yang menjadi pendahulu dari Wi-Fi, GPS, dan Bluetooth yang aman yang sekarang digunakan oleh miliaran orang di seluruh dunia. Tanpa adanya seorang seperti Hedy Lamarr, kita mungkin tak akan bisa menikmati teknologi tersebut sepeti saat ini.

Bakat penemuan Lamarr tidak berhenti di situ, beliau juga berhasil membuat penemuan kubus “bouillon” untuk mengubah air menjadi minuman seperti Coca-Cola, dan “teknik pengencangan kulit berdasarkan prinsip akordeon”.

Lamarr bukan satu-satunya selebriti yang dianggap tidak mungkin memiliki bakat sebagai seorang penemu. Pada tahun 1841, Abraham Lincoln mengawali kepresidenan AS dengan penemuan sistem pengapungan untuk mengangkat perahu di sungai yang terjebak di gundukan pasir; 30 tahun kemudian, penulis Mark Twain mematenkan (di bawah nama aslinya, Samuel L Clemens) tali yang dapat disesuaikan untuk “rompi, pantalon dan pakaian lain yang membutuhkan tali pengikat”. Dan pada tahun 1914, bintang Hollywood, Florence Lawrence menciptakan “tanda tangan otomatis” untuk mobil – pendahulu dari indikator mobil seperti dapat Anda jumpai hari ini.

“Penemuan itu mudah saya lakukan,” kata LaMarr dengan aksen Austria yang dimilikinya dalam ‘Bombshell’. “Saya tidak harus mengerjakan ide, ide – ide tersebut datang secara alami.”

Karya LaMarr sebagai penemu hampir tidak dipublikasikan pada tahun 1940-an, suatu kekeliruan bahwa sutradara ‘Bombshell’ dan Pendiri Reframed Pictures, Alexandra Dean, yang percaya cocok dengan narasi sempit untuk seorang bintang film pada masa itu.

Profesor Jan-Christopher Horak, Direktur UCLA Film & Television Archive, menyatakan dalam ‘Bombshell’ bahwa kepala studio MGM Louis B. Mayer, yang pertama kali menandatangani LaMarr ke kontrak Hollywood, melihat para wanita cocok dengan salah satu dari dua kategori: mereka harus menggoda, atau, mereka harus diletakkan di atas suatu alas dan dikagumi dari jauh. Seorang wanita yang seksi dan mengagumkan bukanlah sesuatu yang Profesor Horak percaya bahwa Mayer akan bersedia menerima atau memproyeksikannya untuk difilmkan bagi penonton.

Putri LaMarr, Denise Loder, bangga dengan pikiran inventif ibunya dan pekerjaan yang dia lakukan sepanjang kariernya untuk mendorong batas-batas bagaimana wanita umumnya dipersepsikan. Ia mencatat bahwa ibunya dan Betty Davis adalah dua wanita pertama yang memiliki perusahaan produksi film dan menceritakan kisah-kisah dari perspektif wanita.

Sumber artikel:

forbes.com

theguardian.com

Sumber gambar:

cbsnews1.com