Nokia yang merupakan salah satu perusahaan tersukses di tahun 1990an asal Finlandia, akhirnya mengalami kegagalan dan terpuruk sekitar satu dekade setelah kelahirannya. Mereka pada akhirnya terpaksa menjual bisnis perusahaan ini kepada Bill Gates, Microsoft dengan harga jual $7.2 juta. Kegagalan Nokia mungkin sudah bukan rahasia lagi: tergilas oleh Android dan Apple.

Akan tetapi, alasan dibalik kegagalan tersebut memang masih menjadi misteri hingga saat ini. Memang kegagalan ini sangat mengherankan karena, dari mulanya, Nokia memang merupakan perusahaan yang aktif beradaptasi secara terus-menerus untuk menyesuaikan diri dengan pangsa pasar teknologi yang populer dari tahun ke tahun. Meskipun demikian, satu hal yang pasti bisa didapatkan dari peristiwa Nokia ini adalah berbagai pelajaran yang berharga. Berikut beberapa pelajaran berharga yang dapat ditarik dari kegagalan Nokia dalam bersaing di pasar teknologi dunia.

Bukan kegagalan yang instan

Kegagalan sering kali merupakan tahap terakhir dari suatu proses yang dimulai dengan kesalahan pertama. Dan sering kali besarnya kesalahan pertama tidak dikenali. Inilah yang terjadi dalam kasus Nokia ketika mereka gagal mengenali gangguan yang akan diluncurkan oleh Apple pada tahun 2007 dengan munculnya iPhone.

Setelah merilis iPhone, nyatanya, Nokia tetap percaya diri bahwa desain perangkat keras miliknya masih lebih unggul dibandingkan iPhone meskipun tujuh tahun sebelumnya pada waktu debut iPhone pertama kali, kapitalisasi pasar Nokia memiliki nilai lebih dari $ 116 miliar, kurang lebih sama dengan Apple itu sendiri dan pada tahun 2000, sebelum smartphone mulai menjadi daya tarik masyarakat, Nokia memiliki nilai tertinggi hanya sebesar $ 222 miliar yang masih kalah jauh jika dibandingkan dengan nilai Apple yang hampir mencapai $400 miliar.

Maka dari itu, sangat penting bagi pebisnis untuk mengidentifikasi kesalahan pertama yang mungkin muncul dalam berbisnis – hindari kesalahan Nokia jika ingin sukses.

Segi pemasaran yang harus lebih diperkuat

Nokia memang memiliki teknologi yang inovatif dan terus dikembangkan untuk menjadi yang tercanggih di pasar teknologi telepon genggam – yang mereka duduki saat itu. Meskipun demikian, produk yang bagus pun harus didukung pemasaran yang baik supaya banyak orang mengetahui serta membelinya.

Nokia, nyatanya, tidak melakukan pemasaran yang cukup gencar untuk mempromosikan produk-produknya. Ditambah lagi, dalam hal platform teknologi, di Amerika saja, Android menguasai lebih dari 80 persen pasar, Apple hanya 13 persen dan Windows Phone kurang dari 4 persen. Meskipun demikian, pangsa pasar Android didominasi oleh Samsung, bukan unit Motorola milik Google. Apple kemudian mulai bisa merebut pasar Amerika, akan tetapi gagal menjadi global. Sebaliknya, Nokia berhasil menjadi global, tetapi gagal merebut pasar Amerika Serikat.

Kuncinya ada di pemasaran. Perkuat strategi pemasaran untuk bisnis Anda supaya tercipta basis konsumen yang kuat. Jangan abaikan kekuatan pemasaran!

Tidak mau keluar dari zona nyaman dan menantang industri yang sudah terbentuk

Nokia, sebagai penguasa industri teknologi mobile waktu itu, juga melakukan kesalahan lain yang cukup fatal. Mereka tak mau keluar dari zona nyaman dan menantang pasar yang sudah terbentuk dengan suatu terobosan baru.

Perusahaan asal Finlandia ini masih saja percaya, waktu itu, bahwa teknologi telepon genggam produksinya hanya memiliki satu fungsi utama: untuk melakukan panggilan telepon. Mereka gagal menyadari fakta bahwa ada banyak hal lain yang bisa dieksplor di dunia teknologi telepon genggam seperti misalnya fitur email, Twitter, dan pencarian restoran terdekat yang, seperti kita ketahui, telah menjadi besar di kemudian hari.

Beradaptasi memang penting. Namun, menjadi kreatif pun juga suatu keharusan dalam berbisnis.

Sumber:
newyorker.com
advantexe.com
livemint.com
cnbc.com
wired.com
theverge.com
techwell.com
ytimg.com