Proyek pribadi CEO Facebook, Mark Zuckerberg untuk tahun 2016 adalah membangun asisten cerdas yang dapat menanggapi respon suara untuk rumahnya bernama Jarvis, yang terinspirasi dari film Iron Man.

Dalam posting Facebook yang panjang pada hari Senin, Zuckerberg menjelaskan bagaimana dia terinspirasi untuk menciptakan Jarvis untuk rumahnya di San Francisco. Dia menghabiskan total 100 jam guna membangun asisten, yang dapat mengendalikan lampu dan musik serta bahkan membuat roti panggang dengan pemanggang roti yang terpasang dari model tahun 1950an.

“Dalam beberapa hal, tantangan ini lebih mudah dari perkiraan saya,” tulis Zuckerberg. “Bahkan, tantangan saya berlari (sejauh 365 mil pada tahun 2016) membutuhkan total waktu yang lebih banyak. Akan tetapi, satu aspek yang jauh lebih rumit dari yang saya duga adalah cara menghubungkan dan berkomunikasi dengan semua sistem yang berbeda di rumah saya,” ungkap Zuckerberg kepada Business Insider.

Berikut adalah beberapa fitur dan hal yang dapat dikerjakan oleh Jarvis versinya Mark Zuckerberg.

Memainkan Musik Berdasarkan Preferensi Zuckerberg atau Istri

Seperti dikutip dari Business Insider, karena Zuckerberg melatih asistennya untuk mengenali suaranya dan suara Priscilla Chan, istrinya, maka Jarvis akan memainkan musik yang berbeda disesuaikan dengan siapa pun yang bertanya. Jika suasananya terlalu sepi, mereka dapat mengatakan pernyataan umum seperti “Terlalu sepi, mainkan sesuatu yang ringan,” dan Jarvis pun akan melaksanakannya.

“Secara umum, saya telah menemukan bahwa kami menggunakan permintaan yang lebih terbuka ini lebih sering daripada yang lebih spesifik,” tulis Zuckerberg. “Tidak ada produk komersial yang saya ketahui tentang hal ini sampai sekarang, dan ini sepertinya merupakan peluang bisnis besar berikutnya.”

Memindai Wajah Para Pengunjung dan Membiarkan Mereka Masuk Melalui Pintu Depan Rumah Zuckerberg

Zuckerberg menggunakan teknologi pengenal wajah Facebook untuk memindai wajah pengunjungnya dari kamera yang diposisikan di pintu depan rumahnya.

“Saya membangun sebuah server sederhana yang terus-menerus mengamati kamera dan menjalankan proses dua langkah,” tulisnya. “Pertama, ia menjalankan deteksi wajah untuk melihat apakah ada orang yang hadir, dan kedua, jika menemukan wajah, maka ia akan melakukan pengenalan wajah untuk mengidentifikasi siapa orangnya. Setelah mengidentifikasi orang itu, ia memeriksa daftar untuk memastikan bahwa saya mengenal orang itu, dan jika saya mengenal mereka maka Jarvis akan membiarkan mereka masuk dan mengatakan bahwa mereka ada di sini pada saya, ” terang Zuckerberg.

Mengobrol Dengan Zuckerberg Melalui Aplikasi Messenger dan iPhone Yang Khusus Melakukan Pengenalan Suara

Zuckerberg menciptakan chatbot Messenger miliknya sendiri untuk mengirim pesan kepada Jarvis – seperti misalnya “mematikan lampu kamar tidur” – dan aplikasi terpisah lain untuk memberikan perintah suara.

“Ketika Jarvis berkomunikasi dengan saya, saya lebih suka menerima pesan tersebut melalui teks daripada suara. Itu karena suara buat saya amat mengganggu sedangkan pesan teks memberi Anda kontrol yang lebih besar termasuk kapan Anda ingin melihatnya. Bahkan ketika saya berbicara dengan Jarvis, jika saya menggunakan ponsel saya, saya sering lebih suka mengirim teks atau menampilkan tanggapannya dalm bentuk tulisan, ” tutur Zuckerberg lagi.

Berbicara Dengannya Seperti Manusia dan Melemparkan Candaan

Zuckerberg menginginkan asistennya, Jarvis, untuk memiliki selera humor, jadi dia memprogramnya seperti demikian.

“Pada tingkat psikologis, begitu Anda bisa berbicara dengan sebuah sistem, Anda lebih merasakan kedalaman emosional daripada dengan komputer yang hanya berinteraksi menggunakan teks atau grafis,” tulisnya.

 

 

Sumber artikel:

Business Insider

Firstpost.com

Sumber gambar:

uaet10.com