Mantan Chief Executive Officer (CEO) PayPal Bill Harris sudah angkat tangan setelah memperingatkan orang-orang tentang bahaya mata uang virtual Bitcoin. Bukan sekali-dua kali ia meminta masyarakat berhati-hati, karena Bitcoin sifatnya spekulatif dan seperti berjudi. Akhirnya, Bill mengutarakan peringatan lebih keras. Bitcoin adalah sebuah penipuan, kata dia, seperti dilansir Recode.

Kalangan pendukung mata uang virtual Bitcoin menyatakan cryptocurrency tersebut dapat digunakan sebagai alat pembayaran, investasi, maupun sebagai barang yang bisa diperjualbelikan. Berikut ini bantahan dan penjelasan Bill terhadap tiga poin itu.

Alat pembayaran

Memang benar, Bitcoin saat ini diterima sebagai alat pembayaran di berbagai tempat. Namun, ada sejumlah mata uang virtual yang bahkan tidak bisa dipakai di mana pun juga. Kalau pun bisa, nilainya fluktuatif hingga 10 persen dalam satu hari. Tentu saja ini konyol jika dipakai sebagai alat pembayaran.

Investasi

Nilai Bitcoin tidak stabil. Benar-benar tidak stabil. Oleh karena itu, mata uang virtual ini kurang diminati sebagai investasi. Bursa jual beli cryptocurrency juga tidak bisa dipercaya, apabila dibandingkan dengan bank maupun broker saham.

Barang untuk diperjualbelikan

Bitcoin tidak memiliki nilai intrinsik. Mata uang yang bahkan tidak diakui bank sentral di sejumlah negara, termasuk Bank Indonesia, hanya memiliki nilai bagi orang-orang yang memang ingin membelinya dengan harga tinggi.

Bill tidak seorang diri. Pada awal tahun ini, Facebook telah mengeluarkan larangan pemasangan iklan peluang investasi mata uang virtual yang tidak bertanggungjawab.  Salah satunya adalah mata uang virtual Prodeum. Berdasarkan laporan Wired, kurang dari sepekan sejak diluncurkan pada Januari lalu, Prodeum menghilang.

Lihat OneCoin sebagai contoh lain. Mata uang virtual yang berasal dari Mumbai, India, ternyata menggunakan skema Ponzi, alias gali lubang-tutup lubang tanpa henti. Bahkan, para pendirinya diduga melarikan US$ 350 juta atau sekitar Rp 4,86 triliun melalui Jerman.

Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia juga sudah mengingatkan masyarakat akan bahaya Bitcoin. Otoritas bank sentral terusik dengan fenomena mata uang virtual. Bank Indonesia bahkan terang-terangan telah menyebut, Bitcoin serta asset digital lainnya berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan dalam negeri.

Kepala Pusat Program Transformasi Bank Indonesia (PPTBI) Onny Widjanarko seperti dilansir CNNIndonesia menjelaskan, Bitcoin dapat berisiko bagi stabilitas keuangan bila kelak terjadi bubble burst atau ledakan gelembung. Apa yang dimaksud dengan bubble?

Dalam hal ini, bubble menggambarkan “gelembung” yang berisi perdagangan suatu aset dengan rentang harga yang melampaui harga intrinsiknya. Jika “gelembung” ini meledak, maka stabilitas keuangan akan terganggu, karena di dalam bubble itu terdapat interaksi antara mata uang virtual dan mata uang ekonomi riil. Mantan CEO PayPal Bill Haris pun sudah memperingatkan soal bubble tersebut.

Bill mengatakan, mata uang virtual hanya memiliki satu kegunaan, yaitu memuluskan tindakan kriminal. Alasannya, transaksi bisa dilakukan secara anonim. Aparat penegak hukum tidak dapat dengan mudah melacak pihak yang melakukan jual beli mata uang tersebut.

Sumber:
recode.net
wired.com
CNNIndonesia.com