Beberapa bulan yang lalu, penjaga jaringan Internet China mulai memblokir fitur berbagi video, gambar, dan file lain di WhatsApp. Namun pesan teks masih akan terus berlanjut sampai pembatasan ini dicabut baru-baru ini. Namun laporan The New York Times mengklaim layanan olahpesan Whatsapp sekarang tampaknya diblokir juga di sebagian besar wilayah daratan China.

China mengoperasikan sistem sensor terbesar di dunia, yang dikenal juga sebagai The Great Firewall, memblokir ribuan situs web termasuk platform populer seperti Facebook, Google, Instagram, YouTube dan sejumlah outlet berita asing lainnya. Apa yang sebenarnya mendasari pemblokiran jaringan internet yang demikian ketat ini? Mari simak ulasannya lebih lanjut!

Di China, aplikasi WhatsApp masih kalah populer dibandingkan dengan layanan pesan lokal seperti WeChat, yang menawarkan lebih dari 900 juta pengguna. Namun demikian, seiring berjalannya waktu, aplikasi asal Amerika satu ini juga semakin sering digunakan oleh orang Cina yang peduli tentang privasi atau mereka yang berkomunikasi dengan teman atau kontak bisnis di luar negeri.

WhatsApp adalah produk terakhir yang tersedia dari Facebook di negara tersebut. Setelah situs web media sosial dilarang di tahun 2009, aplikasi berbagi gambar seperti Instagram juga tidak tersedia di China.

Meskipun alasan sebenarnya untuk pemblokiran tersebut tidak diketahui, namun asumsi yang beredar adalah mungkin karena enkripsi end-to-end yang kuat yang melindungi pesan-pesan WhatsApp bisa di-decode atau diintai dan pemerintah China tak mau hal itu terjadi bagi negaranya.

Tetapi, pemblokiran yang awalnya hanya berlaku untuk aplikasi juga mulai merambah ke pemblokiran perangkat lunak yang lebih canggih yang dapat mengganggu pesan yang sangat terenkripsi dan cukup unik untuk WhatsApp. Selain WhatsApp dan Facebook, Twitter juga telah diblokir di China.

“Dengan memblokir WhatsApp, pihak berwenang telah menutup salah satu dari beberapa aplikasi bertukar pesan bebas dan terenkripsi yang tersisa, tetapi yang lebih penting, mereka juga membatasi kemampuan penduduk China untuk melakukan percakapan pribadi dengan rekan-rekan mereka,” tutur seorang peneliti sensor asal China yang hanya diketahui dengan pseudonym Charlie Smith dalam sebuah email.

Sebelum pemblokiran yang terjadi dalam minggu ini, WhatsApp adalah satu-satunya layanan yang dimiliki oleh Facebook yang masih dapat diakses di China. Jejaring sosial populer tersebut telah diblokir sejak kerusuhan etnis di ujung barat China pada tahun 2009 lalu dan Instagram dilarang selama protes pro-demokrasi di Hong Kong pada tahun 2014.

Mark Zuckerberg, pemilik Facebook, telah membuat dorongan besar untuk membuat layanan perusahaannya tidak diblokir, dengan, salah satunya, menghujani Xi dan para pejabat China lainnya dengan pujian, tetapi tidak banyak menunjukkan hasil yang berarti sejauh ini.

Pada kenyataannya, di bawah kebijakan sensor internet, mesin pencari seperti Google dan semua produknya termasuk Maps, YouTube dan Gmail secara permanen telah diblokir di sana. “Saya bisa hidup tanpa [situs] yang lain, tetapi memblokir WhatsApp membuat saya gila,” tulis salah seorang koresponden pengguna WhatsApp di situs web media sosial China, Weibo. Orang-orang lainpun beramai – ramai mengungkapkan di Weibo akan bagaimana dampak dari memblokir WhatsApp akan menjadi kerugian bagi negara tersebut. Banyak yang mengatakan hal itu akan mempengaruhi bisnis mereka.

Lebih jauh, pemerintah China juga telah menjalankan rencananya untuk memblokir semua jaringan virtual yang bersifat pribadi dan “tidak sah”, atau VPN, alat umum untuk menghindari penyensoran, dimulai pada Februari 2018 lalu yang menyebabkan beberapa penyedia jasa jaringan domestik di sana terpaksa gulung tikar.

Sumber artikel:

theguardian.com

indiatoday.in

Sumber gambar:

asiancorrespondent.com