Menjadi dokter atau pengacara adalah aspirasi populer bagi banyak orang Singapura, dan kekuatan penghasilan hanyalah salah satu dari banyak alasan di balik hal tersebut. Mengapa kuliah untuk mendapatkan gelar hukum dan kedokteran begitu populer di Singapura? Berikut beberapa alasan yang mendasari obsesi masyarakat Singapura untuk menempuh pendidikan tingkat lanjut di kedua bidang ini.

Keunggulan Dan Kerja Keras

Profesor hukum dari universitas Yale, Amy Chua, telah menciptakan sebuah istilah populer yang disebut ‘Tiger Mother‘ dalam bukunya The Battle Hymn of the Tiger Mother tahun 2011, yang menggambarkan orangtua yang sangat mengedepankan pendidikan di Asia dan kedua putrinya. Di Singapura, Tiger Parents, menurut sebuah studi tahun lalu yang dilansir oleh koran lokal The Straits Times, menemukan bahwa tujuh dari sepuluh keluarga mengirim anak-anak mereka dengan dibekali semua biaya studinya, beberapa keluarga bahkan melakukannya dari awal masa pra-sekolah. Alasan paling umum untuk memberikan semua biaya studi ini adalah untuk memastikan anak-anak mereka tetap bergaul dengan teman sebayanya dan untuk meningkatkan nilai mereka.

Meskipun mungkin tekanan orang tua mungkin bukan alasan langsung seseorang untuk memilih studi jurusan hukum atau kedokteran, kebanyakan anak di Singapura dikondisikan untuk meraih keunggulan, dan itu seringkali diartikan sama dengan memilih studi di salah satu dari dua bidang studi yang sangat kompetitif ini yang memerlukan nilai mendekati sempurna untuk dapat lulus dan diterima masuk.

Minat yang tinggi akan studi di bidang kedokteran dan hukum menunjukkan bahwa para siswa Singapura tidak berusaha menghindari tantangan akan sulitnya bidang studi ini namun beberapa di antaranya justru tertarik dengan tantangan yang ditawarkan kedua ilmu ini.

“Tantangannya adalah apa yang benar-benar menarik saya ke karir hukum,” kata Lee Pei Pei, seorang sarjana hukum tahun kedua di Singapore Management University. “Saya menyukai hal baru dalam setiap kasus yang saya temui, terutama dalam hukum kriminal dan keluarga.”

Frederick Leung, seorang peneliti pendidikan senior dari Hong Kong, menjelaskan bahwa anak-anak Asia sering ditanamkan dengan penekanan pada nilai Konfusius soal kerja keras yang bertentangan dengan bakat alami. “Ada kesenangan tersendiri saat kita bisa mendapatkan suatu pencapaian setelah bekerja keras,” kata Leung.

Statistik yang telah dipublikasikan juga memberikan masyarakat kepercayaan pada anggapan bahwa jurusan kedokteran dan hukum adalah pekerjaan yang stabil. Survei Graduate Employment yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan tahun lalu mengungkapkan bahwa lulusan Sekolah Kedokteran Yong Loo Lin dari Universitas Nasional Singapura memiliki kestabilan karir dan gaji bulanan rata-rata sebesar SG $4,729 (~ US $3,492). Lulusan dari Fakultas Hukum memiliki tingkat penerimaan kerja keseluruhan sebesar 96,9 persen dan gaji bulanan rata-rata SG $4,910 (US $3,625). Stabilitas karir di bidang kedokteran tampaknya juga tidak akan hilang.

Seperti dilansir dari asianscientist.com, Menteri Kesehatan Singapura Gan Kim Yong mengungkapkan pada tahun 2012 bahwa nantinya pada tahun 2050, satu dari lima warga Singapura akan berusia di atas 65 tahun. Kementerian tersebut bekerja untuk memperluas industri kesehatan untuk memenuhi kebutuhan populasi yang menua, dan persyaratan utama adalah pelatihan tenaga kerja.

Akan tetapi prospeknya tidak sama cerahnya untuk bidang studi hukum. Menteri Hukum K. Shanmugam membuat para mahasiswa jurusan hukum khawatir pada tahun 2014 saat ia mengumumkan bahwa Singapura menghadapi “rasa jenuh akan banyaknya jumlah pengacara”. Kementerian Hukum memperkirakan jumlah pengacara yang melakukan praktik melonjak sekitar 30 persen dari tahun 2014 sampai 2017; sektor hukum, di sisi lain, tidak akan tumbuh secara proporsional agar sesuai dengan pasokan ini. Bahkan kemudian, lulusan hukum dapat mulai melirik dan mencoba untuk memasuki sektor lain, termasuk bisnis atau politik, dengan gelar sarjana hukum mereka. Dan meskipun tahun 2015 mencatat penurunan gaji rata-rata untuk pengacara pemula, bayarannya tetap sebanding dengan pekerjaan yang lebih baik di pasaran, dengan pengacara pemula di perusahaan menengah memperoleh sekitar SG $4,000-5,000 (US $2,953-3,692) sebulan, menurut sebuah survei oleh perusahaan perekrutan Morgan McKinley.

 

Sumber artikel:

asianscientist.com

straitstimes.com

Sumber gambar:

bnr.bg