Komunitas LGBT secara statistik adalah salah satu yang paling terdiskriminasi dalam demografi dunia saat ini. Menurut survei yang dilakukan oleh Institut William UCLA, sekitar empat persen tenaga kerja di Amerika Serikat adalah lesbian, gay, biseksual atau transgender (LGBT). Tenaga kerja LGBT terus menghadapi diskriminasi yang meluas di tempat kerja dengan 21 persen karyawan LGBT melaporkan bahwa mereka telah didiskriminasi dalam hal pemilihan pekerjaan, promosi kerja dan pembayaran gaji. Terlebih lagi, satu dari setiap 25 keluhan yang dibuat mengenai diskriminasi di tempat kerja juga berasal dari pegawai LGBT. Saat ini, terlalu banyak pekerja gay dan transgender dinilai berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender mereka – faktor-faktor yang tidak berdampak pada kemampuan seseorang untuk tampil di tempat kerja.

Apa yang bisa dilakukan perusahaan untuk menciptakan budaya yang inklusif terhadap kaum LGBT?

Lord John Browne (yang baru-baru ini menerbitkan bukunya The Glass Closet yang merupakan bacaan penting bagi siapa pun yang menganggap keragaman di tempat kerja dengan serius) adalah salah satu dari sedikit tokoh bisnis gay yang terbuka.

Representasi yang lebih luas dari orang-orang gay dan transgender dalam bisnis sangat dibutuhkan. Orang – orang straight juga harus menjadi vokal tentang dukungan mereka dan juga perusahaan untuk membuat suatu kebijakan yang tegas mengenai hal ini.

Dengan menggunakan kombinasi “kode” halus dan pernyataan berani, perusahaan dapat menciptakan atmosfir dan budaya kerja inklusif yang meresap ke seluruh lapisan organisasi di dalamnya – dan akhirnya nanti juga di seluruh masyarakat. Solusinya bisa saja amat sederhana namun memiliki hasil yang sangat positif. Yang dibutuhkan hanyalah pikiran terbuka dan kepemimpinan yang bertanggung jawab.

Dilansir dari Guardian, pendidikan adalah kuncinya, termasuk keinginan untuk merangkul setiap orang untuk siapa mereka, bukan siapa yang mereka cintai. Setelah itu bisa dicapai, sisanya akan mengikuti.

Masalah Umum Yang Dialami Kaum LGBT di Tempat Kerja

Kurangnya perlindungan hukum di tempat kerja. Di beberapa negara seperti India, undang-undang era kolonial mencegah individu LGBT memiliki hubungan sesama jenis. Karena hukum semacam itu ada, tidak mungkin komunitas LGBT memiliki perlindungan hukum di tempat kerja. Selain itu, di negara lain, karyawan dapat dipecat karena menjadi transgender.
Tingkat diskriminasi yang tinggi dalam wawancara kerja. Studi di seluruh Eropa telah mengindikasikan bahwa sekitar 20 persen individu yang mengidentifikasi diri sebagai LGBT merasa mereka berpengalaman dalam berburu pekerjaan karena orientasi seksual mereka.
Ketakutan membuat karyawan LGBT terkurung di tempat kerja. Karyawan LBGT lebih memilih untuk tetap tertutup mengenai orientasi seksual dan identitas gender mereka karena mereka takut bahwa dirinya sendirilah yang akan mengakibatkan masalah seperti kehilangan koneksi dengan rekan kerja, atau mungkin mereka tidak diberi kesempatan untuk pengembangan atau kemajuan serta promosi dalam hal karir.
Karyawan LGBT berbakat meninggalkan tempat kerja mereka karena mereka tidak merasa diterima dengan baik. Statistik menunjukkan bahwa hampir satu dari setiap sepuluh karyawan LGBT telah meninggalkan pekerjaan mereka karena lingkungan kerja tidak ramah terhadap mereka. Karyawan – karyawan ini percaya bahwa membicarakan orientasi seksual dan identitas gender mereka secara terbuka di tempat kerja tidaklah profesional. Dengan demikian, penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga karyawan LGBT berbohong tentang kehidupan pribadi mereka di tempat kerja.
Dibandingkan rekan-rekan LGB mereka, orang-orang transgender menghadapi masalah pekerjaan yang lebih banyak – Orang-orang transgender menghadapi dua kali lipat tingkat kerja normal dengan sekitar 90 persen populasi transgender di Amerika Serikat mengalami penganiayaan dalam pekerjaan tersebut.

Tantangan Terbesar Untuk Kaum LGBT di Tempat Kerja

Meskipun kemajuan telah dibuat dengan adanya legalisasi perkawinan sesama jenis di beberapa negara, banyak orang lesbian, gay, biseksual dan transgender yang khawatir bahwa mengungkapkan seksualitas atau orientasi seksual mereka di tempat kerja akan menimbulkan konsekuensi negatif. Tantangan utama bagi orang-orang LGBT di tempat kerja adalah pelecehan atau diskriminasi yang terus berlanjut. Diperkirakan 40 persen dari kaum LGBT mengalami pelecehan dan diskriminasi di tempat kerja karena orientasi seksual mereka. Terlebih lagi, statistik untuk karyawan transgender khususnya juga secara signifikan menunjukkan data yang lebih tinggi, dengan angka 97 persen yang mengalami pelecehan atau diskriminasi di tempat kerja karena identitas gender mereka.

 

Sumber artikel:

huffingtonpost.com

theguardian.com

Sumber gambar:

huffpost.com