Industri game terus berkembang pesat di berbagai negara di dunia. Industri yang satu ini bahkan mampu mencetak keuntungan yang fantastis. Di Indonesia, misalnya, menurut Deputi Akses Permodalan Asosiasi Games Indonesia (AGI), Cipto Adiguno, industri game di tanah air berhasil meraup keuntungan sebesar US$ 800 juta atau sekitar Rp 11 triliun. Data tersebut diperoleh dari survei yang dilakukan pada 2017.

Nah, kalau di Indonesia saja industri game mampu mencetak angka keuntungan yang besar, rasanya bukan tidak mungkin bahwa industri yang satu ini akan terus bersinar untuk beberapa tahun ke depan. Bagaimana ya kira-kira perkembangan industri game ini dalam lima tahun ke depan? Berikut ulasannya untuk Anda!

Augmented reality dan teknologi VR

Anda tentunya sudah tak asing dengan kedua teknologi ini. Teknologi VR memastikan Anda untuk masuk ke dunia lain yang diciptakan alat bernama Oculus sedangkan augmented reality telah digunakan pada game seperti Pokemon Go yang sempat populer beberapa waktu lalu.

Anna Sweet, seorang kepala pengembangan teknologi Oculus mengatakan bahwa di masa mendatang, kemampuan yang dimiliki Oculus akan menjadi lebih spektakuler dan menakjubkan dengan fitur untuk menggunakan VR bersama teman atau keluarga.

Kemampuan yang dimiliki Oculus akan menjadi lebih spektakuler dan menakjubkan dengan adanya fitur untuk menikmati VR bersama teman atau keluarga Anda.

Sedangkan untuk AR (Augmented Reality), akan ada game serupa Pokemon Go berjudul Woorld di mana Anda dapat menempatkan obyek virtual diatas objek yang menjadi latar belakang di dunia nyata. Tujuan utama dikembangkan game-game semacam ini adalah untuk menciptakan dunia nyata yang lebih menyenangkan, lucu, dan melebihi logika.

Peran wanita di industri game

Masalah lain yang mungkin sudah sejak lama ada di industri game adalah persoalan stigma. Wanita yang bekerja dalam dunia game masih dianggap tidak lebih baik dalam bekerja dibandingkan pria dalam industri yang sama. Hal ini mungkin masih ada kaitannya dengan anggapan di masyarakat bahwa bermain video game adalah hobi pria, bukan wanita.

Meskipun demikian, stigma ini nampaknya akan mulai luntur dalam beberapa tahun ke depan. Produsen game seperti, Electronic Arts, juga sudah mulai mempercayakan dan mempekerjakan lebih banyak pekerja wanita dalam posisi-posisi yang lebih besar dengan peran yang krusial.

Di Indonesia pun pekerjaan sebagai pengembang game pun mulai dilirik oleh banyak orang. Sayangnya, mereka lebih berminat untuk bekerja di Singapura dan negara-negara sekitarnya.

Pertumbuhan studio game indie

Semenjak games seperti Braid dan World of Goo muncul dan menjadi dua buah game indie yang populer, kehadiran banyak games hasil garapan studio game indie lainnya pun mulai menjamur.

Hal ini tentu saja bagus untuk memperbesar industri game secara keseluruhan. Misalnya saja game Roll7 yang merupakan game indie yang dikembangkan hanya oleh satu tim beranggota tiga orang. Namun sekarang jumlah anggota timnya telah mencapai 25 orang.

Hannah Flynn, direktur komunikasi dari Failbetter Games mengatakan bahwa kunci dari pertumbuhan besar jumlah tim pengembang game di studio game indie adalah merekrut seorang pemasar. Merekut orang yang tepat dan akan bertahan dalam waktu lama dengan sebuah studio game indie itu sangatlah vital karena jumlah game yang harus dibuat terus meningkat tiap tahunnya.

Sumber:
polygon.com
kompas.com
theguardian.com
fortune.com
medium.com
lynda.com