Selain dikenal ramah dengan teknologi, generasi milenial juga dianggap senang menghabiskan waktu di kafe atau restoran. Tanpa disadari, gaya hidup tersebut membuat generasi ini dapat mengalami kesulitan finansial di masa tua.

Agar terhindar dari hal tersebut, seperti halnya generasi-generasi lain, generasi milenial juga harus belajar menyisihkan pendapatan sedini mungkin. Presiden Direktur Bahana TVW Investment Management, Edward Lubis, menyarankan agar generasi milenial menjadikan investasi sebagai gaya hidup.

Reksa dana, investasi mudah dan murah

Investasi yang paling mudah dan murah adalah menabung reksa dana. Dengan menabung reksa dana, generasi milenial dapat memiliki beberapa aset tanpa harus mengeluarkan uang yang banyak. Bagi mereka yang belum menetapkan tujuan investasi dalam jangka panjang, Edward merekomendasikan mencoba berinvestasi di reksa dana pasar uang.

Reksa dana pasar uang merupakan investasi dengan risiko terendah dibanding produk reksa dana lainnya. Berdasarkan hasil riset Divisi Riset Badan Ekonomi Indonesia tahun 2017, keuntungan dari investasi reksa dana dapat mencapai 13,13 persen dibanding keuntungan dari deposito yang hanya 7,36 persen dan emas yang hanya 7,30 persen.

Pada usia produktif, sebaiknya  Anda memilih produk reksa dana yang risikonya terlihat seolah lebih tinggi, namun memiliki basis yang kuat dan rentan bankrut. Walaupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan, risiko itu bisa ditutupi dengan pendapatan bulanan.

“Sebaliknya, ketika IHSG naik, reksa dana saham bisa memberi keuntungan yang jauh lebih tinggi ketimbang produk reksa dana pasar uang, obligasi, dan campuran,” kata Direktur Riset dan Investasi Bahana TCW Investment Management, Soni Wibowo.

Selain itu, jenis investasi reksa dana juga memiliki kelebihan dibandingkan deposito dengan menawarkan sistem pencairan yang lebih cepat dan mudah. Kelebihan ini sejalan dengan gaya hidup generasi milenial yang dinamis.

Mayoritas milenial belum berinvestasi

Sayangnya, menurut Perencana Keuangan Finansialku.com, Melvin Mumpuni, delapan dari sepuluh karyawan milenial belum memiliki investasi meski mereka tahu manfaatnya. Menurutnya, ada lima penyebab generasi milenial enggan berinvestasi. Pertama, modal yang besar. Banyak milenial yang menganggap bahwa investasi hanya untuk orang kaya.

“Justru karena gaji masih kecil, Anda harus menambah penghasilan,” ungkap Melvin.

Kedua, risiko tinggi. Banyak pemula yang menganggap risiko investasi itu tinggi. Ketiga, investasi bisa membuat uang hilang. Padahal nyatanya tak demikian. Nilai uang malah bisa berkurang akibat inflasi yang terjadi dari tahun ke tahun ketika Anda mendiamkan uang Anda di rekening tabungan.

Keempat, ada biaya tambahan. Meski ada biaya administrasi, biaya data, dan sebagainya, ada pula jenis investasi yang tak mengenakan biaya itu, seperti reksa dana. Kelima, uang tak bisa diambil. Kenyataannya, ada investasi yang bisa dicairkan dalam waktu dekat, misalnya reksa dana yang bisa dicairkan satu hari setelah dibeli.

Menurut Melvin, usia awal bekerja merupakan usia yang cocok untuk berinvestasi. Karena ketika berada di puncak karier, sebaiknya jangan coba-coba. “Usia di bawah 35 harusnya sudah mulai investasi. Usia 35—40 tahun itu sudah masuk akselerasi. Jadi, sekarang waktunya belajar,” kata Melvin.

Sumber:

kontan.co.id
kompas.com
idx.co.id