Pada bulan September, Biro Sensus Amerika Serikat merilis Survei Komunitas Amerika 2016, yang mengukur berbagai data ekonomi, sosial, dan perumahan dari semua penduduk di negara tersebut.

Survei tersebut menemukan bahwa median pendapatan rumah tangga nasional meningkat sebesar 3,2% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi US $59,039, jumlah tertinggi sampai saat ini.

Menurut Pew Research Center, orang-orang yang pendapatan rumahnya turun antara 66% hingga 200% dari rata – rata pendapatan rumah tangga nasional dapat menyebut diri mereka kelas menengah. Dengan definisi tersebut, kelas menengah di Amerika Serikat memiliki pendapatan rumah tangga dari sekitar US $39.000 sampai sekitar US $118.000 pada tahun 2016.

Namun bagaimana dengan orang – orang yang tinggal di Silicon Valley? Apakah mereka menikmati kemakmuran dan ekonomi yang merata di sana sebagai penduduk dari tempat yang dikenal sebagai “surga” teknologi? Mari simak ulasannya!

American DreamĀ Hanyalah Mimpi Yang Tak Realistis Di Sana

Keluhan dari para pekerja teknologi dengan kompensasi yang baik akan terdengar seperti omong kosong belaka bagi 99% orang lainnya yang berjuang untuk bertahan hidup dengan hanya sedikit sekali sisa dari pendapatan mereka. Akan tetapi, tampaknya ada tingkat frustrasi yang terus berkembang di kalangan para pekerja teknologi yang mengatakan bahwa mereka sedang berjuang untuk bertahan hidup di sana.

Para teknisi Facebook, pada tahun 2016 yang lalu, bahkan sempat mengangkat masalah ini bersama sang pendiri, Mark Zuckerberg, serta menanyakan apakah perusahaan tersebut dapat mensubsidi uang untuk membayar sewa apartemen mereka supaya situasi kehidupan mereka lebih terjangkau.

Biaya perumahan juga adalah keluhan umum berikutnya yang berasal dari kalangan teknisi Bay Area. Seorang insinyur contohnya, menurut satu analisis, dapat membayar antara 40 hingga 50 persen dari gaji yang mereka terima hanya untuk membayar sewa apartemen yang letaknya dekat dengan tempat mereka bekerja.

Seorang karyawan Apple juga ada yang tinggal di garasi Santa Cruz, menggunakan ember kompos sebagai toilet. Seorang pekerja teknik lainnya, yang terdaftar dalam bootcamp khusus coding, menceritakan bagaimana dirinya tinggal dengan 12 insinyur lainnya di sebuah apartemen dengan dua kamar tidur yang disewa melalui Airbnb. “Kami membayar US $1,100 untuk tempat tidur yang kondisinya kurang layak dengan lima orang lainnya yang tinggal di ruangan yang sama. Yang lebih memprihatinkannya lagi, seorang pria lainnya juga ada yang tinggal di dalam sebuah lemari serta membayar US $1,400 untuk mendapatkan tempat tersebut,” ungkapnya kepada Guardian.

Seorang pekerja teknik lain yang merasa tidak dapat masuk ke pasar real estate adalah Michael, pria berusia 41 tahun, yang bekerja di sebuah perusahaan jaringan di Silicon Valley dan tahun lalu memperoleh US $700,000. Beratnya perjalanan sejauh 22 mil untuk bekerja, yang terkadang bisa memakan waktu hingga dua setengah jam, rela ditempuhnya demi membeli properti yang lokasinya lebih dekat dengan tempatnya bekerja.

“Kami pergi ke sebuah rumah terbuka di Los Gatos yang akan mempersingkat perjalanan saya dengan jarak sejauh delapan mil. Itu berarti 1,700 kaki dan harganya terdaftar di angka US $1,4 juta. Namun, rumah tersebut terjual dalam 24 jam seharga US $1.7 juta,” katanya.

Michael bukan satu-satunya pekerja di bidang teknologi yang pernah berpikir untuk meninggalkan Silicon Valley untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Seorang spesialis IT asal Kanada berusia akhir 40-an, yang memiliki penghasilan lebih dari US $200.000, pun memiliki rencana serupa. “Ketika saya sampai di Bay Area, jumlah uang yang akan mereka bayar sepertinya tidak masuk akal,” katanya. Namun, biaya sewa dan perawatan anak, yang harganya “lebih banyak daripada yang saya bayarkan untuk pendidikan universitas saya di Kanada, sulit untuk saya bisa terima,” tuturnya kepada Guardian.

Kesenjangan Sosial Yang Amat Terasa

Fred Sherburn Zimmer dari Komite Hak Perumahan San Francisco sepakat bahwa harga perumahan terlalu mahal di Bay Area. Hal ini menunjukkan bahwa ada banyak konsekuensi buruk bagi orang-orang yang tidak bekerja di bidang teknologi.

“Bagi seorang penduduk berusia senior yang kesehatannya sudah memasuki masa rentan, berpindah dan keluar dari sana mungkin merupakan tindakan yang berbahaya,” katanya. “Untuk keluarga imigran dengan dua anak, pindah dari tempat seperti San Francisco bisa berarti Anda sama saja dideportasi.” Ia menggambarkan sebuah bangunan di San Francisco di mana ada 28 orang yang tinggal di “lemari mirip studio” di ruang bawah tanah, termasuk seorang senior dan keluarga dengan anak-anak.

Sam, yang bekerja di perusahaan perangkat lunak, tidak optimis tentang masa depan penduduk di sana. “Satu-satunya solusi yang dapat saya lihat adalah perombakan ulang yang sangat besar dan kami telah melakukannya sekali dalam satu dekade terakhir. Itu sangat menyakitkan bagi banyak orang, termasuk saya sendiri,” katanya.

Beberapa pekerja teknologi mengungkapkan rasa bersalah atas keluhan mereka saat banyak orang menjadi lebih buruk, termasuk penduduk tunawisma San Francisco yang putus asa.

“Anda benar-benar harus tega menyingkirkan banyak orang lain untuk sampai pada pekerjaan impian yang dapat menghasilkan ratusan ribu dolar,” kata Michael. “Bagaimana mungkin Anda dapat menjalani kehidupan sehari-hari seolah-olah itu tidak menjadi masalah?”

Ia menyarankan untuk para pemodal bisnis harus berhenti berinvestasi pada “aplikasi bodoh” dan menyalurkan sejumlah uang mereka untuk memecahkan masalah masyarakat yang lebih nyata seperti tunawisma, misalnya.

“Anda terjebak dalam posisi yang sangat tidak nyaman ini. Anda merasa sangat bersalah karena melihat kemiskinan dan ketidakberdayaan semacam itu,” tambah Michelle, seorang profesional berusia 28 tahun tersebut. “Tapi apa yang bisa Anda lakukan? Tidak menghasilkan banyak uang? Tidak mengadvokasi diri sendiri dan kemudian tidak mampu tinggal di sini?”

 

Sumber artikel:

Theguardian.com

Businessinsider.sg

Sumber gambar:

netdna-ssl.com